Perbedaan Kamen Rider Showa Dan Kamen Rider Heisei

in
Kamen Rider All
Credit Image: imgur.com

Serial Kamen Rider atau dalam bahasa Jepang aslinya Kamen Rider Series, Kamen Raidā Shirīzu, terjemahan resmi: Masked Rider Series)—sempat diterjemahkan menjadi “Kesatria Baja” ketika ditayangkan di Indonesia—adalah judul kolektif untuk semua serial tokusatsu produksi Toei dan Ishinomori Productions yang menampilkan berbagai jenis Henshin dan Seni bela diri.

Pertama kali mengudara di stasiun televisi Jepang pada tahun 1971, serial Kamen Rider merupakan salah satu tokutsasu yang paling dikenal selain Serial Super Sentai, Serial Metal Hero, dan Serial Ultra.

Kamen Rider memiliki beragam bentuk dan jenis. Ada manusia, Cyborg (manusia setengah robot), 100% robot, manusia setengah monster, bahkan ada yang 100% monster. Kamen rider ada yang protagonis & antagonis. Seri-seri kamen rider ada banyak, ada yang berhubungan dan ada yang tidak. Hingga saat ini seri kamen rider terus bermunculan.

Lalu, apa perbedaan Kamen Rider Showa dan Kamen Rider Heisei?

1. Desain Karakter

Ksatria Baja Hitam
Kamen Rider era Showa | Source Image

Dalam dunia Kamen Rider, ada perbedaan yang signifikan dari kedua era Kamen Rider tersebut. Salah satu perbedaan yang cukup mendasar adalah masalah desain.

Kamen Rider Ryuki 696x418 1
Kamen Rider Heisei (Ryuki) | Source Image

Desain Kamen Rider di era Showa masih didominasi oleh motif serangga, mulai dari belalang sampai kumbang. Berbeda jauh jika dibandingkan Kamen Rider Heisei sekarang yang desain dan temanya sangat modern dan beragam. Sebut aja Monster Hewan (Ryuki), Game (Ex-Aid), Hantu (Ghost), dan lainnya.

2. Sabuk Henshin

Jika Kamen Rider Showa hanya membutuhkan sabuk untuk melakukan Henshin, kamen rider Heisei menggunakan lebih dari sebuah sabuk, contohnya handphone (Kamen Rider 555), kartu remi (Kamen Rider Blade) dan lainnya.

3. Jalan Cerita

Perbedaan selanjutnya adalah jalan cerita. Walaupun aslinya Kamen Rider dibuat sebagai tontonan anak kecil, Kamen Rider Showa punya jalan cerita yang cukup “dark” daripada Kamen Rider Heisei.

Kamen Rider Showa harus benar-benar manusia yang diubah total menjadi cyborg murni (contoh: Ichigo, Nigo, V3, X dan sebagainya bahkan juga Kamen Rider Black RX adalah cyborg) atau bentuk kehidupan yang lain sama sekali dari manusia normal (contoh: Shin Kamen Rider dan Amazon yang berubah secara biologis sampai tingkat selulernya).

Kamen Rider
kamen Rider Ichigo | Source Image

Kamen Rider sepeninggal Ishinomori mengalami perubahan konsep besar-besaran, di mana seseorang dapat berubah menjadi Kamen Rider jika ada alat lain (Faiz) atau diberi kekuatan mistik (Agito, Gills, Kuuga) dan sebagainya.

Bahkan ada juga yang berubah menggunakan kartu (Ryuki, Blade, Decade, Diend), ada yang karena memang diwariskan secara keturunan (Kiva), dan ada yang karena latihan dan mentoring oleh seorang master(Hibiki dan kawan-kawan).

Tidak ada satupun Kamen Rider Heisei yang berupa cyborg, kalau mendekati cyborg ada (G3, G3X, G4) itu pun hanya baju lapis baja saja yang dipakai jadinya mirip Robocop.

4. Jenis Organisasi Villainnya

Dalam era Kamen Rider Showa, sangat jelas terlihat bahwa jaman Ichigo sampai RX terdapat organisasi jahat yang tujuannya hanya satu : World Domination (menguasai dunia).

Musuh RX
Salah satu villain Kamen Rider RX | Source Image

Hal ini berlangsung mulai jaman Ichigo (Shocker) sampai jaman black RX(Crisis) dan diteruskan sampai Kamen Rider J (Neo Organism).

Sedangkan dalam era Kamen Rider Heisei, tidak terlihat jelas ada organisasi jahat seperti sebelumnya, tetapi umumnya tergantikan oleh ras makhluk (komunitas) yang ingin menguasai dunia dan berbagai tujuan yang bersifat menghancurkan kemanusiaan (humanity).

Terlihat jelas pada serial Kamen Rider Faiz versus ras Orphenoch, Kuuga versus Grongi, Agito versus Unknown, Blade versus undead, Kabuto versus worm, Kiva versus Fangire, dan ada juga yang menciptakan Rider System (Shiro Kanzaki alias masternya Kamen Rider Odin) hanya bertujuan menyelamatkan nyawa adik kandungnya sendiri (contohnya pada Kamen Rider Ryuki).

Penulis: Aldino Akbar Rabkanastan
Editor: Yogi Arfan