Apa yang akan Terjadi Jika Matahari Kita Mati?

Pexels Photo 301599 E1520566077684 1024x576

Sejak awal sejarah manusia, kita telah memahami bahwa Matahari adalah bagian sentral dari kehidupan yang kita kenal. Seiring pemahaman kita terhadap Matahari bertambah, kita jadi tahu bahwa Matahari telah lama ada jauh sebelum eksistensi manusia, dan tidak akan selamanya ada. 

Setelah terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun lalu, Matahari kita telah memulai kehidupannya sekitar 40 juta tahun sebelum Bumi kita terbentuk. Nantinya, Matahari kini tidak akan selamanya bertahan, ia akan berevolusi.

Panjang rentang hidup sebuah bintang, seperti yang kita tahu, tergantung pada ukurannya. Matahari kita adalah jenis bintang kerdil kuning dengan diameter sekitar 1,4 juta kilometer, atau sekitar 109 kali ukuran Bumi. Bintang kerdil kuning bisa hidup selama sekitar 10 miliar tahun. Dengan usia yang diperkirakan sudah mencapai 4,5 miliar tahun, itu artinya Matahari sudah di setengah masa hidupnya.

Saat ini, Matahari sendiri masih berada di tahap bintang Deret Utama, jenis bintang di mana fusi nuklir di intinya menyebabkannya memancarkan energi dan cahaya, membuat kita di Bumi mendapatkan energi yang lebih dari cukup.

Namun, Matahari takkan selamanya di tahap ini. Fase Deret Utama Matahari hanya akan berlangsung selama 4,5 sampai 5,5 miliar tahun lagi. Setelah itu, Matahari akan kehabisan pasokan hidrogen dan heliumnya, sehingga bakal mengalami beberapa perubahan serius. Dengan asumsi umat manusia masih hidup dan masih tinggal di Bumi, manusia masa depan jelas harus meninggalkan planet ini.

Sebab, perubahan serius yang akan terjadi pada Matahari adalah, lapisan terluar Matahari akan mengembang menjadi Bintang raksasa merah.

Ilustrasi Bintang Raksasa Merah

Bintang raksasa merah merupakan bintang yang diameternya mencapai 100 juta hingga 1 miliar kilometer, dengan massanya bisa mencapai 100 hingga 1.000 kali massa Matahari saat ini.

Pengembangan ini akan dimulai setelah semua hidrogen habis dalam inti Matahari,

Apabila bintang sudah kehabisan hidrogen di dalam intinya, reaksi fusi nuklir dalam intinya juga akan berhenti, membuat inti bintang tersebut akan mengkerut akibat gravitasinya. Di tahap ini, lapisan terluar inti yang masih memiliki hidrogen akan memanas, membangkitkan kembali fusi hidrogen menjadi helium. Matahari akan mulai mengonsumsi unsur-unsurnya yang lebih berat. Selama tahap tersebut, Matahari menjadi lebih bergejolak, sejumlah besar material dari Matahari akan terlontar ke angkasa ketika tubuh Matahari mengembang hingga 100 kali ukurannya saat ini.

Diperkirakan, mengembangnya Matahari menjadi bintang raksasa merah akan tumbuh cukup besar untuk mencakup orbit Merkurius, Venus, dan bahkan Bumi. Bahkan jika Bumi bisa bertahan dari mengembangnya Matahari, jaraknya nanti akan terlalu dekat sehingga suhunya akan sangat panas, membuatnya benar-benar mustahil bagi kehidupan untuk bertahan hidup.

Karena energi pada raksasa merah tersebar di area yang lebih luas, suhu permukaan bintang jenis ini akan lebih rendah, yakni hanya mencapai 2.200 hingga 3.200 derajat Celsius, setengah panas permukaan Matahari. Suhu yang rendah ini menyebabkan bintang raksasa merah bersinar dengan warna merah dalam spektrum cahaya, dari sinilah sebutan “raksasa merah” muncul, meskipun sebenarnya bintang jenis ini lebih sering muncul dengan warna oranye.

Namun, para astronom juga mencatat bahwa ketika Matahari mengembang, orbit planet kemungkinan akan berubah juga.

Ketika Matahari mencapai tahap akhir dalam evolusi kehidupannya ini, ia akan kehilangan sejumlah besar massa karena terus-menerus melontarkan angin bintang yang kuat. Ketika ia tumbuh besar, ia kehilangan massa, menyebabkan orbit planet-planet berubah.

Jadi, pertanyaannya adalah, apakah ketika Matahari yang berevolusi menjadi raksasa merah akan mendorong orbit planet-planet untuk bergerak ke luar, atau akankah Bumi (dan mungkin bahkan Venus) akan dikonsumsi Matahari?

K.-P Schroder dan Robert Cannon Smith adalah dua peneliti yang telah menjawab pertanyaan ini. Dalam makalah penelitiannya, mereka menjalankan perhitungan dengan model evolusi bintang yang paling mutakhir.

Menurut Schroder dan Smith, ketika Matahari menjadi bintang raksasa merah dalam 7,59 miliar tahun mendatang, ia akan mulai kehilangan massa dengan cepat. Pada saat mencapai radius terbesar, sekitar 256 kali ukurannya saat ini, massanya akan menurun menjadi hanya 67% dari massa saat ini. Ketika Matahari mulai berkembang, ia akan menyapu tata surya bagian dalam hanya dalam 5 juta tahun.

Bagaimana dengan Bumi?

Menurut Schroder dan Smith, Bumi tidak akan bertahan dari evolusi Matahari. Meskipun Bumi akan menjauh orbitnya sekitar 50% saat Matahari mengembang, planet kita tetap tidak akan mendapatkan kesempatan. Matahari yang semakin meluas akan menelan Bumi sesaat sebelum mencapai ujung fase raksasa merah.

Begitu berada di dalam atmosfer Matahari, Bumi akan berbenturan dengan partikel-partikel gas. Orbitnya akan oleng, dan akan berputar ke dalam Matahari. Jika Bumi sedikit lebih jauh dari Matahari daripada orbitnya sekarang, yakni sekitar 1,15 AU, kemungkinan masih akan mampu bertahan. Tapi nyatanya tidak.

Matahari yang semakin panas akan menguapkan lautan Bumi, dan kemudian radiasi Matahari akan meledakkan radiasi hidrogen ke segala penjuru ruang. Bumi tidak akan pernah memiliki lautan lagi, dan akhirnya akan menjadi kering.

Ilustrasi ketika Matahari berevolusi menjadi Bintang Raksasa Merah

Ketika Matahari menjadi raksasa merah, zona layak huni baru diperkirakan akan membentang dari jarak 49,4 AU ke 71,4 AU (1 AU = 150 juta km). Yang berarti dunia yang sebelumnya dingin, seperti objek trans-Neptunus, akan mencair dan menghangat. Sehingga air dalam bentuk cair akan hadir di Pluto.

Mungkin planet kerdil Eris akan menjadi planet rumah baru kita, sementara planet kerdil Pluto akan menjadi Venus baru, dan Haumeau, Makemake, dan sisanya akan menjadi “tata surya” bagian luar. Tapi, apakah manusia memang masih tinggal di tata surya dalam miliaran tahun mendatang? Atau sudah menjadi peradaban penjelajah galaksi?

Dalam tahap evolusinya, sebuah bintang bisa menghabiskan sekitar beberapa ribu hingga 1 miliar tahun sebagai raksasa merah.

Ketika helium menyatu dengan inti bintang raksasa merah, lapisan terluar bintang tersebut akan runtuh dan menyebar, membentuk awan gas dan debu raksasa yang dikenal sebagai nebula planeter. Awan gas dan debu inilah yang nantinya bisa membentuk bintang-bintang baru.

Sementara lapisan terluarnya membentuk nebula planeter, sisa inti bintang raksasa merah yang sudah kehabisan energi itu akan mengkerut menjadi bintang katai putih. Pada tahap ini, sudah tidak ada lagi proses fusi nuklir yang terjadi. Bintang kecil seperti Matahari kita diperkirakan akan mengakhiri hidupnya sebagai katai putih yang padat tersebut.

Ilustrasi Katai Putih, Fase Akhir Sebuah Bintang

Katai putih juga tidak akan selamanya ada di alam semesta, sebab mereka pada akhirnya akan memudar menjadi katai hitam. Tapi sayang, belum ada katai hitam yang pernah diamati karena katai putih sendiri membutuhkan waktu yang lebih lama dari usia alam semesta untuk memudar menjadi katai hitam.


Referensi:

https://www.infoastronomy.org/2018/06/menanti-matahari-berevolusi-menjadi-raksasa-merah.html?m=1
https://phys.org/news/2018-05-sun-dies.html
https://www.sciencealert.com/what-will-happen-after-the-sun-dies-planetary-nebula-solar-system
http://www.astrophysicsspectator.com/topics/stars/MainSequence.html
https://www.space.com/22471-red-giant-stars.html
http://spiff.rit.edu/classes/phys230/lectures/planneb/planneb.html

[zombify_post]

0/5 (0 Reviews)

Tinggalkan Balasan