Kisah Lengsernya Gus Dur (Presiden R1 Ke-4)

in , , ,
Main Qimg 96f54e6ce4400fdec04de830b5383a85

KALIMAT GUSDUR SAAT AKAN DILENGSERKAN DARI TAMPUK KEKUASAAN

Dr.(H.C)K.H.Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur adalah Toko yang Pancasila banget sob, idola saya ini. Hehe daripada bertele-tele langsung aja ke Topik.

Sosok KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sangat teguh dalam memegang prinsip Pancasila dan pluralisme, termasuk pada saat jabatannya sebagai presiden sedang terancam untuk dijatuhkan, kata Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Moh. Mahfud MD.

“Saya lebih baik mundur sebagai Presiden daripada melakukan tindakan-tindakan yang melanggar Pancasila, melanggar azas pluralisme,” kata Mahfud saat menirukan kata-kata Gus Dur, dalam acara Diskusi Pemikiran Gus Dur bertajuk Demokrasi dan Pluralisme di Jakarta, Kamis.

Dia bercerita, saat menjelang lengsernya Gus Dur sebagai presiden pada 2001, ada sejumlah orang yang menghubungi Mahfud, meminta untuk menemui Gus Dur.

Atas permintaan tersebut, Gus Dur bersedia untuk menemui mereka.

Ketika pertemuan tersebut akan dilangsungkan, Mahfud menanyakan terlebih dahulu perihal kepentingan yang ingin mereka sampaikan dalam pertemuan dengan Gus Dur.

Sejumlah orang tersebut mengatakan ingin membantu menyelamatkan Gus Dur dari “kejatuhan”.

“Mereka mengatakan, Gus Dur nggak mungkin diselamatkan, tapi kami bisa menyelamatkan Gus Dur dari kejatuhan. Syaratnya satu, agar dia mengeluarkan Dekrit Presiden, ubah Indonesia menjadi negara Islam,” kata Mahfud.

Setelah mengetahui maksud kedatangan orang-orang tersebut, Gus Dur memutuskan untuk menolak kedatangan mereka.

Mahfud juga menceritakan Gus Dur yang enggan melakukan transaksi dengan lawan-lawan politiknya. Menurut Mahfud, beberapa hari menjelang Gus Dur lengser, dalam suatu pertemuan Gus Dur ditawari untuk melakukan kompromi politik.

Gus Dur diminta untuk merombak kabinet dan menyerahkan pergantian personel menteri kepada partai politik.

“Gus Dur langsung gebrak meja dan mengatakan tidak setuju untuk melakukan transaksi seperti itu. Dia lebih memilih jatuh daripada harus melakukan jual-beli jabatan seperti itu,” ungkap Mahfud.

Sementara terkait pandangan soal pluralisme, Mahfud mengemukakan berdasarkan pemikiran Gus Dur, pluralisme di Indonesia hanya bisa ditegakkan dengan tiga hal yakni, pengakuan kesamaan derajat pada semua manusia, sistem demokrasi yang berjalan baik dan kedaulatan hukum.

“Demokrasi merupakan jalan untuk menegakkan pluralisme tapi demokrasi harus memiliki aturan, yakni kedaulatan hukum agar demokrasi tidak berjalan liar,” kata Mahfud.


GUSDUR KETAWA SAAT DI LENGSERKAN DARI KURSI KEPRESIDENAN

Kisah Gus Dur Ketawa Ketawa Saat Dilengserkan Dari Kursi Kepresidenan

Alissa Qotrunnada Munawaroh alias Alissa Wahid menyebut mendiang ayahnya, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur lebih suka ditertawakan ketimbang dipuji-puji. Bahkan ketika dilengserkan, Gus Dur bukannya sedih, malah ‘ketawa-ketawa’.

Kepribadian unik Presiden ke-4 RI ini diungkap Alissa di Haul ke-8 ayahnya yang digelar di Ponpes Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis 928/12) malam. “Pak Mahfud (mantan ketua MK), Mbak Khofifah (Khofifah Indar Parawansa, dan Pak Rizal Ramli tahu ini (suka ditertawakan),” kata putri sulung Gus Dur tersebut.

Di Haul ke-8 Gus Dur kali ini begitu istimewa. Sebab, pihak keluarga meminta tiga ‘punakawan’ Gus Dur untuk memberikan testimoninya. Mereka adalah Mahfud MD, Khofifah, dan Rizal Ramli.

Dalam testimoninya, Mahfud MD mengisahkan, di saat Gus Dur ketawa-ketawa jelang dilengserkan dari kursi kepresidenan, orang-orang terdekatnya justru gelisah.

“Yang gelisah itu seperti Bu Khofifah. Saya gelisah, Pak Alwi (Shihab) gelisah, kiai-kiai gelisah, Gus Dur sendiri ketawa-tawa,” kisah Mahfud.

Bahkan Mahfud sendiri, demi menyelamatkan kedudukan Gus Dur, rela bertemu dengan tiga pimpinan partai, seperti Taufik Kemas, Hamzah Haz, dan Akbar Tanjung.

Dari pertemuan itu, mereka bersepakat untuk tetap menjadikan Gus Dur sebagai presiden asal mau merombak kabinetnya. Dan para menterinya harus ditentukan oleh pimpinan partai, bukan oleh Gus Dur.

Namun, kata Mahfud, ketika hasil pertemuan itu disampaikan ke Gus Dur, jawabannya cukup mengejutkan. “Gus Dur menjawab: Saya lebih baik dilengserkan melanggar aturan. Saya tidak mau didekte oleh partai,” ungkapnya.


Bagi-bagi zakat untuk selamatkan Gus Dur

Kisah lain dari upaya penyelamatan Gus Dur dari rongrongan kekuatan politik, Mahfud melanjutkan ceritanya, Khofifah juga sampai harus berkeliling ke pelosok kampung-kampung kumuh selama dua bulan untuk membagikan sedekah.

Kenapa harus membagikan sedekah? Mahfud menuturkan, karena Khofifah ‘protes’ kenapa Gus Dur yang sudah lurus masih banyak pihak yang mau menjatuhkan.

“Lalu ada yang berbisik: Mungkin Gus Dur, mungkin, lupa bayar zakat karena terlalu sibuk,” kata Mahfud MD yang disambut ger-geran jamaah yang hadir.

20171229172719 1 Haul Gus Dur 013 Debby Restu Utomo


Mendengar bisikan seperti itu, Khofifah langsung bergerak mengumpulkan uang yang dipecah menjadi Rp 20 ribuan. Lalu masuklah Khofifah ke pelosok kampung-kampung kumuh untuk membagikan ‘zakatnya’ Gus Dur kepada orang-orang miskin.

“Saya tahu karena pagi-pagi Bu Khofifah mau pergi, lalau saya tanya mau kemana? Katanya mau bagi-bagi ‘zakatnya’ Gus Dur. Mungkin Gus Dur lupa zakat jadi harus dizakati,” ujarnya menirukan jawaban Khofifah kala itu.

Sedekah yang dibagikan Khofifah kala itu total ada Rp 60 juta yang dipecah menjadi Rp 20 ribuan. Uang itu disiapkan Khofifah bersama Rizal Ramli yang waktu itu menjabat Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri (Menko Ekuin) di Kabinet Gus Dur.

Sementara Khofifah mengisahkan, uang zakat Gus Dur itu dibagikan selama hampir dua bulan. “Insyaallah Pak Dr Rizal Ramli, tak ada satu lembar pun yang masuk ke kantong saya. Semuanya saya bagi dalam waktu hampir dua bulan,” kata Khofifah ke Rizal menjawab testimoni Mahfud.

“Tiap hari saya berkeliling dari kampung ke kampung. Teman-teman saya juga saya minta berkeliling. Saya bilang: Ini sedekahnya Gus Dur ya, doakan Gus Dur ya,” cerita Khofifah.

Lewat sedekah itu, Khofifah mengaku memang berharap bisa memberikan perlindungan keselamatan bukan kepada Gus Dur semata, tapi bangsa dan negara Indonesia agar dijauhkan dari sifat-sifat hasut, dengki, “Dan dijauhkan dari orang-orang yang ingin melakukan sesuatu secara destruktif,” jelasnya.

Bagi Khofifah, tidak seluruh warga Nahdlatul Ulama ( NU) mengetahui secara detail persoalan kebangsaan saat itu. Maka hal sedekah yang dibagikan sesungguhnya bagian dari ikhtiar bersama.

Namun, ikhtiar itu ternyata tidak bisa menyelamatkan Gus Dur dari serangan-serangan lawan politiknya kala itu. Genap 21 bulan memimpin Indonesia, atau tepatnya tanggal 23 Juli 2001, Gus Dur resmi lengser dan digantikan wakilnya, Megawati Soekarnoputri.

“Hari ini delapan tahun Gus Dur meninggalkan kita, tapi pikiran-pikiran besar Gus Dur Insyaallah tetap bersama kita dan seluruh warga bangsa Indonesia,” kata Khofifa menuntaskan ceritanya.

“Saking inginnya Bu Khofifah menyelamatkan Gus Dur. Gus Dur sendiri tenang-tenang saja. Bahkan waktu Gus Dur jatuh pada 23 Juli (2001) saya sedang diutus untuk meresmikan Universitas Madura,” kata Mahfud MD.


Sumber:

Merdeka
Antaranews

Tinggalkan Balasan