Simak Sejarah Pembangunan Observatorium Bosscha, Perlu Banyak Perhitungan Untuk Membangunnya!

Bosscha

Hai kawan-kawan EBID, kali ini kita akan membahas sejarah Observatorium Bosscha. Tau kan?? Kuy, kita simak sejarah singkatnya.

Observatorium Bosscha, seperti observatorium dunia lainnya, Observatorium  ini terus digunakan untuk pengamatan langit  dan sejak berdirinya terus berkembang seiring dengan perkembangan astronomi dan masyarakat di Indonesia.

Pada tahun 1920 ide pendirian stasiun pengamatan bintang mulai bergulir dengan berdirinya Nederlandch Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV/Perhimpunan Ilmu Astronomi Hindia Belanda) yang dipelopori oleh Karel Albert Rudolf Bosscha. Ini adalah tahun yang menjadi tonggak sejarah berdirinya observatorium tersebut. NISV kemudian melakukan rapat pertama yang dilaksanakan di Hotel Homman Bandung pada 12 september 1920 untuk merundingkan dan memutuskan pembangunan sebuah observatorium untuk memajukan ilmu Astronomi di Hindia Belanda.

Sang pelopor NISV, KAR Bosscha berjanji untuk membeli dan memberikan bantuan befupa teropong bintang modern. KAR Bosscha dan Mr. Dr. J. Voute pada tahun 1921 berangkat ke Askania Werk, Jerman untuk memesan “Meredian Circle” dan “Carl Zeiss Jena” yang merupakan double refraktor.

Setelah dilakukan pemesanan. Keduanya kemudian melakukan penelitian dan  menentukan lokasi yang tepat untuk membangun observatorium tersebut. Setelah beberapa lama, mereka akhirnya menetapkan daerah kawasan Pegunungan Tangkuban Perahu, yang berjarak 15 km ke Utara dari pusat kota Bandung. Dipilih berdasarkan udara yang masih sangat asri dan jauh dari keramaian, memiliki ketinggian yang ideal, yakni 1300 mpdl, yang dapat dimanfaatkan untuk memandang lepas ke Timur dan Barat.

Lahan untuk pembangunan observatorium ini adalah hibah dari 2 orang kakak beradik bernama “Ursone” dengan luas 6 hektar.Bosscha terletak pada posisi 107° 37′ Bujur Timur (BT) dan 6° 49′ 30″ Lintang Selatan (LS).Dalam keadaan normal temperatur minimum malam hari mencapai 16° (Juni & Juli) dan maksimum 23° pada siang hari. Kelembaban rata-rata 80% s/d 90%. Memiliki 150 hari malam yang cerah dalam pertahun, sedangkan untuk pengamatan fotometri lebih dari itu.

Pembangunan baru bisa dimulai pada tahun 1922 dan diresmikan pada tanggal 1 Januari 1923, yang pada kenyataannya observatorium tersebut belum rampung 100%. Peresmian dilakukan oleh Mr. D. Fock sebagai Gubernur Jendral dan Dr. Voute diangkat sebagai direktur pertama observatorium tersebut.

Observatorium telah diresmikan. Namun teleskop tak kunjung tiba. Dibutuhkan waktu kurang lebih 5 tahun untuk teleskop tersebut masuk ke Observatorium Bosscha, tepatnya 10 Januari 1928. Menurut Prof. Dr. Bambang Hidayat, perjalanan teleskop itu banyak melibatkan personil dan peralatan.

Teleskop Refraktor Double Zeiss yang sekarang ada di Bosscha berdiameter 60 cm dengan panjang 11 m. Kedatangan teleskop ganda tersebut diangkut menggunakan kapal “Kertasono” milik Rotterdamsche Lioyd. 27 peti kemas dengan bobot sekitar 30 Ton diangkut oleh perusahaan Kereta Api Negara secara gratis ke Bandung. Saat itu, Biro Bangunan Perjalanan Kereta Api mendapat tugas untuk membuat bangunan beton berkubah dengan instrumen yang canggih, sekaligus memasangkan teleskopnya.

Teleskop refraktor Bosscha terdiri dari 2 buah refraktor yabg masing-masing mempunyai lensa objektif 60 cm. 1 teleskop disebut dengan “fotografis” digunakan untuk menyelidiki kesalahan paralaks atas saran dari Prof. Kapteijn dari Groningen, Belanda. Sedangkan, 1 teleskop lainnya adalah teleskop visual. Kedua teleskop tersebut diatur dalam satu tabung berdiameter 1,66 meter. Medan pandang dan pergerakannya dapat menyapu hampir semua langit Utara dan Selatan.  Dia tergolong teleskop yang canggih ketiga dari sejenisnya pada waktu itu. Yang pertama, ada di Melbourne, memiliki panjang lensa 1,22 meter dan di La Plata dengan panjang lensa 70 cm.

Beberapa bulan setelah pemasangan dan perakitan instalasi teleskop Refraktor Ganda Zeiss tersebut, KAR Bosscha meninggal dunia, tepatnya 26 November 1928. Untuk mengenang jasanya, Observatorium di Lembang itu, diberi nama Observatorium Bosscha.

Dalam sejarahnya, selama perang dunia kedua dan perang kemerdekaan Indonesia. Observatorium Bosscha banyak mengalami kerusakan. Direktur Observatorium Bosscha tahun 1939 ditawan tentara jepang dan meninggal dalam Camp tawanan. Dengan kondisi seperti itu, Prof. Dr. Jan Hendrik Oort (28 April 1900 – 5 November 1992), tidak tinggal diam. Beliau kemudian mengutus seorang staf senior CH Hins untuk mengecek dan memperbaiki kondisi teleskop yang rusak sebagai wujud kepeduliannya terhadap stasiun pengamatan langit selatan. Pada masa berakhirnya Hins, seorang astronom asal Belanda lainnya datang, GB Van Albada yang kemudian menjadi direktur Observatorium Bosscha hingga tahun 1960. Berkat usaha dari berbegai pihak, terutama dari Hins dan Van Albada, akhirnya Observatorium Bosscha dapat beroperasi kembali secara normal sebagai tempat pengamatan langit selatan.

Pada tanggal 17 Oktober 1951, Bosscha diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia dan kemudian Bosscha bergabung dengan Fakultas Ilmu Murni Universitas Indonesia. Setelah Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung memisahkan diri dengan membentuk ITB (Institut Teknologi Bandung). Maka, pada tahun 1959, Observatorium Bosscha menjadi bagian dari ITB yang kini berada di bawah naungan Departemen Astronomi ITB.

Sejak masa pemerintahan Indonesia, Bosscha dijadikan sebagai lembaga penelitian, pengamatan, maupun menjadi sarana pendidikan formal astronomi Indonesia. Keberadaan Observatorium Bosscha diatur dalam PP nomor 155 tahun 2000, Bab X Satuan Akademik, pasal 44 ayat 6, menempatkan Observatorium Bosscha sebagai perangkat penunjang akademik di ITB.

Bagi ITB, Bosscha tidak hanya menjadi sarana penunjang pendidikan bagi mahasiswa departemen astronomi, tetapi juga memperkenalkan suatu model profesi astronomi dan menjadi sarana pengajaran bagi mahasiswa dan beberapa lembaga di luar ITB. Sejak berdirinya hingga saat ini. Bosscha dipimpin oleh sejumlah nama.

1) 1923-1940            : Dr. J. Voute

2) 1940-1942            : Dr. A. De Sitter

3) 1942-1946            : Prof. Dr. Masahi Miyaji

4) 1946-1949            : Prof. Dr. J. Hind

5) 1949-1958            : Prof. Dr. G.B. Van Albada

6) 1958-1959            : Prof. Dr. Ong Peng Hok       dan S. Nitisastro (dir. Pelaksana)

7) 1959-1968            : Prof. Dr. The Pik Sin

8) 1968-1999            : Prof. Dr. Bambang Hidayat

9) 1999-sekarang     : Dr. Moedji Raharto

Dah tau kan gimana sejarahnya??? Mulai dari perencanaan, pembangunan yang tertunda, peresmian, pengangkutan dan pengantaran teleskop yang cukup sulit dan memakan waktu lama serta membutuhkan banyak tenaga, meninggalnya sang pelopor NISV dll. Ternyata dalam pembangunannya gk semudah yang dibayangkan

Ok, cukup sampai disini, semoga bermanfaat. Sampai jumpa lagi.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

0/5 (0 Reviews)

Tinggalkan Balasan