Penyebab Masker di Indonesia Mahal Meskipun Belum Ada Kasus Virus Corona di Dalam Wilayah Indonesia

in ,
Penyebab Masker di Indonesia Mahal Meskipun Belum Ada Kasus Virus Corona di Dalam Wilayah Indonesia
Penyebab Masker di Indonesia Mahal Meskipun Belum Ada Kasus Virus Corona di Dalam Wilayah Indonesia

Semenjak kehebohan wabah virus corona, peredaran masker di pasar menjadi langka antara lain di Jakarta dan sekitarnya. Konsumen memborong masker untuk persediaan.

Selain aksi borong, apakah kelangkaan masker karena penimbunan atau ada masalah produksi?

Ketua Indonesian Nonwoven Association (INWA) Billy Hidjaja yang juga owner PT. Hadtex mengakui peredaran masker dalam negeri memang kian langka sejalan wabah virus corona yang melanda China dan negara lain, meski Indonesia belum ada konfirmasi kasus postif virus corona.

Ia menyebut, kebutuhan masker untuk dalam negeri saat ini lebih banyak diisi dari pasokan impor. Apalagi, produksi dalam negeri juga sedang dalam kondisi yang tidak mendukung saat ini alias tak bisa memenuhi kebutuhan.

“Produksi (masker) Indonesia terbatas. Selama ini banyak barang impor,” sebutnya kepada CNBC Indonsia, Kamis (27/04/2020).

Billy pun menjelaskan kondisi produksi masker di dalam negeri, banyak pabrik yang kekurangan bahan baku yang memang diimpor dari China. Bahan baku impor diandalkan karena dalam negerti tidak memiliki ketersediaan yang cukup untuk produksi masker sesuai permintaan.

ARTIKEL TERKAIT •
3 Alasan Mengapa COVID-19 Memberikan Dampak Buruk Bagi Kesehatan Mental Perempuan

Namun di sisi lain pasokan masker impor pun banyak diserap oleh China dan buruknya bahan baku masker seperti kain spunbond juga terhambat.

“Bahan jadi tidak ada dan bahan baku ada yang terhambat juga. Termasuk barang pembantu produksi,” ujarnya.

Ketersediaan masker yang kian menipis tentu menyulitkan masyarakat. Apalagi diiringi kelonjakan harga. Hal ini pernah dikeluhkan oleh Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto. Ia mengatakan pemerintah tidak bisa mencegah peningkatan harga masker.

Virus corona berdampak kepada pabrik tekstil

Karena penyebaran virus corona, pelabuhan telah menutup aktivitas pengiriman barang sejak 25 Januari 2020. Hingga saat ini, pelabuhan belum membuka kembali aktivitas ekspor dan impor dari China, membuat kesulitan pabrik tekstil di Indonesia.

Pelaku usaha harus memaksimalkan cadangan bahan baku tekstil untuk memenuhi kebutuhan. Padahal, cadangan tersebut hanya mampu memenuhi sekitar 1 hingga 2 bulan. Kondisi seperti ini akan mempengaruhi aktivitas ekspor.

Selama ini, mayoritas pangsa pasar tekstil dan produk tekstil (TPT) ke Amerika Serikat (AS). Tahun lalu, TPT menyumbang eskspor sebesar USD 12,84 miliar, sementara impor TPT USD 9,37 miliar.

ARTIKEL TERKAIT •
Obat Anti-Malaria Mampu Untuk Mengobati Penyakit Virus Corona

Berikan Nilai Untuk Konten ini