Penulisan Dialog yang Benar Sesuai PUEBI

in ,
Tips Menulis1 57aa0649b492738c194c296e
Credit Image: Kompas

PUEBI adalah Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Banyak cerita yang kita jumpai idenya bagus, cerita menarik, tetapi PUEBI berantakan.

Apa pentingnya PUEBI?

Kalau tulisan kita rapi, sedap dipandang, enak dibaca, editor pun tak butuh waktu lama untuk mengerjakan naskah kita. Tanamkan prinsip, “Cerita bagus, tulisan rapi.”

Yuk disimak beberapa contoh di bawah ini!

1. Penggunaan tanda titik di akhir dialog

contoh salah : “Aku yakin dia mencintaiku”.
Contoh benar : “Aku yakin dia mencintaiku.”

Jika dialog diiringi dengan narasi, maka ketentuannya seperti ini :
Contoh salah : “Kamu sangat cantik.” menatap kagum Aletha.
Contoh benar : “Kamu sangat cantik.” Menatap kagum Aletha.

Jika narasi berada di awal maka ketentuannya menjadi :
Contoh salah : Aletha tersenyum, “Kamu adalah bahagiaku.”
Contoh benar : Aletha tersenyum. “Kamu adalah bahagiaku.”

2. Penggunaan tanda koma di akhir dialog


Tanda koma biasanya digunakan bersamaan dengan dialog tag.
Contoh salah : “Aku mencintaimu.” ungkap Aletha.
Contoh benar : “Aku mencintaimu,” ungkap Aletha.

Jika tag berada di awal dialog maka ketentuannya menjadi :
Contoh salah : Aletha berkata. “Aku mencintaimu.”
Contoh benar : Aletha berkata, “Aku mencintaimu.”

ARTIKEL TERKAIT •
Mengenal Cara Penulisan Frase Dialog Tag

3. Penggunaan tanda seru di akhir dialog


Tanda seru biasanya digunakan untuk menegaskan, memberi perintah, peringatan, teriak, atau marah.
Contoh salah : “Pergi dari hadapanku.” bentak Aletha.
Contoh benar : “Pergi dari hadapanku!” bentak Aletha.

4. Penggunaan tanda tanya di akhir dialog


Contoh salah : “Apa kamu mencintaiku?” Tanya Aletha.
Contoh benar : “Apa kamu mencintaiku?” tanya Aletha.

Jika di akhir dialog tidak ada tag dan langsung narasi maka ketentuannya menjadi :
Contoh salah : “Mengapa kau tidak mencintaiku?” digenggamnya tangan Aletha.
Contoh benar : “Mengapa kau tidak mencintaiku?” Digenggamnya tangan Aletha.

5. Tanda Elipsis


Contoh pada dialog yang memberi jeda : “Jadi … kau tidak mencintaiku?”
Elipsis diapit spasi, dan kata setelah elipsis awalnya huruf kecil.
Bagaimana jika tanda elipsis berada di akhir dialog?
Contoh 1 : “Aletha, berhentilah menangis. Kumohon ….”
Contoh 2 : “Aletha, berhentilah menangis. Kumohon …,” lirih Aldi.
Loh, mengapa beda? Karena pada contoh 1 tidak ada kalimat setelahnya, jadi 3 titik itu elipsis dan satunya adalah tanda titik. Sedangkan contoh 2, masih ada kalimat yang menyertainya.

ARTIKEL TERKAIT •
Belajar PUEBI, Yuk! Berikut 10 Kesalahan yang Sering Terjadi Dalam Menulis

6. Penggunaan tanda dash (–)


Biasanya digunakan untuk dialog yang terputus-putus atau terpotong.
Contoh 1 : “Bu–bukan itu maksudku, Aletha.”
(ini dialog terputus-putus)
Contoh 2: “Jadi kau pe–“
(ini dialog terpotong karena seseorang langsung menyergah)

7. Penggunaan kata ‘kan’ dalam dialog


Banyak juga sobat Alka yang suka menulis menggunakan kata ‘kan’. Namun, banyak salah penulisan.
Contoh 1 : “Dia itu kekasihmu, kan?”
Contoh 2 : “Aku ‘kan selalu mencintaimu.”
Mengapa berbeda?
Pada contoh 1, sebelum kata ‘kan’ diberi tanda koma. Sedangkan pada contoh 2 kata ‘kan’ di sana memakai tanda Apostrof.

8. Penggunaan nama atau panggilan dalam dialog


Perhatikan!
Contoh 1 : “Aku harap Ayah merestui hubungan kami,” ucap Aldi.
Contoh 2 : “Aku berharap ayahmu merestui hubungan kita,” ucap Aletha.
Pada contoh 1, kata ‘Ayah’ ditulis kapital karena orang yang dimaksud sedang ada di tempat, sedang kita ajak bicara. Sementara pada contoh 2, sang ayah tidak ada di tempat. Dalam narasi kata ayah, ibu, kakak, dll, tak perlu pakai kapital.

ARTIKEL TERKAIT •
Mencari Tahu Awal Mula Tulisan

Contoh lain :
“Kak, aku harus bagaimana, Kak?”
“Nak, ayo bangun, Sayang!”
(sebelum dan sesudah nama sapaan pakai tanda koma, nama sapaan ditulis kapital)

Contoh lain :
“Kata pak Aldi, jangan lewat sini.”
“Terimakasih, Pak Aldi, atas kerjasamanya.”
Mengapa kata ‘pak’ berbeda? Seperti contoh awal, kata pak pada dialog pertama menunjukkan bahwa pak Aldi tak ada di tempat. Sedangkan Pak Aldi di contoh berikutnya, sudah jelas sedang diajak bicara.

Penulis hebat itu bukan hanya penulis yang bisa menulis cerita keren, tetapi bisa juga menulis dengan PUEBI yang baik dan benar.

Narasumber: Fu Tha AL aka Althafunis
Credit: Forum Edukasi


Berikan Nilai Untuk Konten ini