Ancaman Ilusi Dari Ateis Militan

in
Ateis
Credit Image: ceng-melfin

Perdebatan akan dimenangkan oleh siapapun yang mengendalikan argumen dengan baik. Tidak bisa dipungkiri bahwa kelompok ateis militan sangat mahir dan terampil dalam hal itu.

Mereka menyerang Tuhan seperti kesatria yang beringas di medan perang. Di mana pun mereka menemukan kemunafikan walaupun itu di dalam diri orang-orang beriman yang berwajah shaleh, maka mereka akan bersuka-ria layaknya agen FBI yang berhasil menangkap anggota dewan yang terkena kasus berat.  

Namun seberapa jauh ancaman ilusi itu?

Mereka menentang keras terhadap believers lalu menghimpun serangkaian tindakan buruk di kalangan ekstremis fanatik. Sejarah agama tidak lepas dari kesenjangan parah antara hal-hal ideal dalam jiwa manusia dengan kekurangan-kekurangan dalam fitrah manusia.

Tampaknya realistis jika kita mengatakan bahwa kedua hal tersebut telah berada dalam keseimbangan yang genting selama berabad-abad. Setiap abad telah menghadirkan baik prestasi-prestasi inspiratif maupun kekejaman tak mengenal perasaan. Itulah salah satu tema buku dari karya Sam Harris (partner Dawkins) yang mendapat banyak pujian dan penghargaan buku bergengsi. 

ARTIKEL TERKAIT •
Multikulturalisme: Sebuah Seni Bertahan Hidup Dalam Masyarakat Plural

Perlu diketahui bahwa kelompok ateis militan hanya mengangkat satu sisi saja. Apakah bisa dipercaya bila menggambarkan agama maupun Tuhan dengan begitu buruk sehingga ia tidak bisa diselamatkan?

Salah satu orang yang menentang dan memicu polemik ini terjadi ialah Dawkins. Dawkins dan para pendukungnya terus menyerang believers terutama para televangelism, dan memosisikan diri sebagai pelopor perubahan budaya yang harus diperhatikan oleh semua orang, yakni akhir dari iman kepada Tuhan.

401 Richard Dawkins
Source Image

Dawkins cenderung bersikap akademis dengan menyerang iman dari puncak olympus, sedangkan Harris memperkeruh permusuhan sengit terhadap agama, yang efeknya mengerikan dan secara universal. 

Bila kita meninggalkan keangkuhan konsep ateisme militan ini yang tersisa hanya imbauan menuju hati nurani. Kedua orang itu ingin agar masyarakat melakukan usaha terakhir yakni menghapuskan ataupun meninggalkan Tuhan demi kebaikan bersama.

Agama terlibat dalam hal-hal yang mengerikan

Argumen dari kelompok ateis sama sekali tidak kosong tetapi mempunyai makna tersirat di dalamnya. Demi tujuan yang baik, yakni menggerakkan dunia menuju kondisi yang lebih baik dan lebih adil. Harris hendak menghalalkan segala cara. Keyakinannya yang utama berupa silogisme sederhana:

“Jika dunia menderita akibat para ekstremis irasional, Jika beberapa ekstremis itu adalah orang-orang yang beragama, Maka Tuhan itu jahat dan agama sebagai sarana atau media menyembah Tuhan harus dihapuskan.”

Sumber/Referensi : The God Delusion, The End of faith, Letter to a Christian Nation
Penulis: Prince Mikael
Editor: Yogi Arfan

Berikan Nilai Untuk Konten ini