Mengapa Darah Menstruasi Keluar Sedikit, Apakah Berbahaya?

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jumlah darah yang keluar selama menstruasi menjadi lebih sedikit. Apa artinya jika seperti itu?

6
0

Apakah artinya jika darah yang keluar sedikit saat menstruasi?

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jumlah darah yang keluar selama menstruasi menjadi lebih sedikit. Setiap bulan, jumlah darah yang keluar selama menstruasi bisa berbeda-beda, sehingga mungkin ada bulan di mana darah yang keluar lebih sedikit dari biasanya. Jika menstruasi lebih ringan dari biasanya, hal tersebut biasanya tidak perlu dikhawatirkan.

Menurut Medical News Today, terdapat beberapa situasi di mana menstruasi yang lebih ringan dapat terjadi. Hal ini bisa disebabkan oleh stres atau penurunan berat badan. Selain itu, menstruasi yang sedikit juga bisa menjadi pertanda kehamilan atau masalah kesehatan terkait hormon. Dalam artikel ini, kami akan menjelaskan secara singkat tentang penyebab munculnya sedikit darah saat menstruasi.

Baca Juga: Tips Menstruasi Lancar, Wanita Harus Tau

Alasan Mengapa Darah Keluar Sedikit Saat Menstruasi

Hipwee Collage 21

1. Kehamilan

Saat sedang hamil, umumnya wanita mengalami berhenti menstruasi. Namun, pada beberapa wanita hamil, menstruasi masih terjadi meskipun dalam intensitas yang lebih ringan. Namun, perlu diingat bahwa hal ini juga bisa menjadi tanda adanya kehamilan ektopik yang berbahaya. Kondisi ini terjadi ketika sel telur menempel di tempat selain rahim.

2. Menyusui

Selama ibu menyusui, tidak hanya saat hamil, seringkali terjadi darah menstruasi yang sedikit. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa proses ovulasi tidak berfungsi dengan optimal saat menyusui. Dampaknya, volume darah saat haid dapat menjadi lebih sedikit atau bahkan ibu tidak mengalami haid selama beberapa bulan jika memberikan ASI secara eksklusif pada bayinya.

Saat sedang menyusui, tubuh ibu akan menghasilkan hormon sintesis laktosa dan prolaktin alfa-laktalbumin. Kedua hormon ini dapat mengganggu hormon reproduksi yang bertanggung jawab untuk memicu ovulasi. Sebagai hasilnya, siklus menstruasi ibu dapat kembali normal setelah ia selesai menyusui secara eksklusif.

Baca Juga: Pentingnya Rutin Ganti Pembalut dalam Sehari

3. Berat Badan Berubah Signifikan

Perubahan berat badan yang besar dapat mempengaruhi siklus menstruasi Anda, membuat menstruasi menjadi lebih pendek atau ringan. Ketika berat badan bertambah, lemak yang lebih banyak akan disimpan dalam tubuh, yang dapat mempengaruhi hormon menstruasi. Hal yang sama juga terjadi saat berat badan turun secara drastis. Ketika berat badan turun dan asupan kalori berkurang, tubuh dapat mengalami stres dan ketidakseimbangan hormon terjadi.

4. Stres

Tekanan psikologis dapat mempengaruhi kinerja tubuh Anda dalam berbagai cara, termasuk menghambat aliran darah saat haid. Ketika Anda mengalami tekanan psikologis, tubuh akan menghasilkan hormon kortisol yang dapat mengganggu kerja hormon lainnya, termasuk hormon estrogen yang berperan dalam fungsi reproduksi. Penurunan kadar hormon estrogen dalam tubuh dapat menyebabkan perubahan pada siklus haid dan jumlah darah yang keluar menjadi lebih sedikit. Bahkan, dalam beberapa kasus, haid bisa tidak terjadi sama sekali.

Baca Juga: Waspadai, 4 Bahaya Menstruasi yang Tidak Teratur

5. Kelenjar Tiroid yang Terlalu Aktif

Ketika kelenjar tiroid menjadi terlalu aktif, hal ini dapat menyebabkan tingginya kadar hormon dalam tubuh, yang dikenal sebagai hipertiroidisme. Kondisi ini juga dapat mempengaruhi siklus menstruasi dan menyebabkan jumlah darah haid menjadi berkurang.

6. PCOS (Sindrom Ovarium Polikistik)

PCOS adalah suatu kondisi kesehatan reproduksi yang timbul akibat ketidakseimbangan hormon dalam tubuh. Wanita yang mengalami masalah ini umumnya memiliki ketidakseimbangan hormon seks seperti estrogen dan progesteron. Namun, mereka cenderung memiliki kadar hormon androgen yang terlalu tinggi dan berisiko mengalami pembentukan kista di ovarium.

Berbagai faktor ini dapat mempengaruhi ovulasi dan menyebabkan jumlah darah menstruasi menjadi berkurang dan siklus menstruasi menjadi tidak teratur. Beberapa kasus bahkan menunjukkan bahwa wanita dengan PCOS juga dapat mengalami amenore dalam jangka waktu yang lama.

Baca juga: 5 Obat Alami Perbaiki Siklus Menstruasi Tidak Teratur

7. Penggunaan Alat Kontrasepsi

Ternyata, penggunaan alat kontrasepsi tertentu dapat mempengaruhi jumlah darah yang keluar selama menstruasi. Selain itu, alat kontrasepsi juga dapat memperpendek durasi menstruasi.

Baca Juga: 7 Buah Pelancar Haid untuk Menyeimbangkan Siklus Menstruasi

8. Efek Penuaan atau Premenopause

Penuaan dapat mempengaruhi volume darah menstruasi yang keluar seiring bertambahnya usia. Terutama ketika wanita memasuki masa premenopause, yang merupakan masa transisi sebelum menopause. Pada masa ini, tubuh mengalami penurunan produksi hormon secara bertahap.

Biasanya, wanita berusia antara 40-50 tahun akan mengalami masa premenopause selama sekitar 4-6 tahun sebelum akhirnya mengalami menopause, di mana mereka tidak akan mengalami menstruasi lagi.

Baca Juga: 10 Penyebab Menstruasi Tidak Lancar, Wanita Wajib Tahu!

Tinggalkan Balasan