Jejak Mitos Keberadaan Naga Melalui Perspektif Sejarah

Naga bukan hanya ada dalam legenda di suatu wilayah, tetapi juga memberikan pengaruh dalam mitologi berbagai budaya di seluruh dunia. Simak asal-usul mitos naga melalui perspektif sejarah.

6
0

Menelusuri asal-usul mitos naga melalui perspektif sejarah.

Dahulu kala, naga dianggap sebagai legenda yang tidak nyata, namun sebenarnya memiliki latar belakang sejarah yang kuat. Orang-orang masa lampau menggambarkan punggung naga yang dilindungi oleh perisai sehingga tidak ada udara yang bisa melewati. Selain itu, nafasnya yang kuat juga mampu membuat api menyala dan menyalakan batu bara.

Dalam Kitab Ayub atau Book of Job, terdapat deskripsi mengenai makhluk yang disebut sebagai Leviathan yang merupakan monster raksasa yang menakutkan. Adanya kesamaan ini menambahkan misteri mengenai kehadiran naga dalam sejarah.

Naga bukan hanya ada dalam legenda di suatu wilayah, tetapi juga memberikan pengaruh dalam mitologi berbagai budaya di seluruh dunia, seperti di Amerika, Eropa, India, dan Tiongkok. Kisah-kisah tentang naga tersebar luas dengan berbagai variasi, yang menggambarkan naga memiliki karakteristik yang istimewa.

Seiring berjalannya waktu, gambaran tentang naga menjadi semakin beragam dan kompleks. Ada yang menggambarkan naga dengan memiliki sayap, sementara yang lain tidak.

Beberapa mitos naga memiliki kemampuan berbicara dan menyemburkan api, namun ada juga yang tidak memiliki kemampuan tersebut. Naga tidak terbatas pada satu lokasi saja, ada yang tinggal di istana atau di dasar laut, sementara yang lain hanya dapat ditemukan di dalam gua atau di daerah pegunungan.

Baca Juga: Keberadaan Monster Gurita “Kraken” di Lautan, Mitos atau Nyata?

Mitos Naga dalam Berbagai Perspektif

Dalam cerita-cerita, naga sering kali mendapat gambaran sebagai makhluk dengan sifat baik atau jahat, memberikan nuansa misteri pada kisah yang melibatkan mereka. Meskipun belum pasti kapan pertama kali muncul, kepercayaan bahwa naga telah ada sejak zaman Yunani dan Sumeria Kuno telah menjadi bagian dari mitologi.

1. Makna Naga

Img 5599 4230024556
Ilustrasi Legenda Naga

Asal-usul kata ‘Dragon’ dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu ‘draconta,’ yang memiliki arti ‘untuk mengawasi.’ Dalam hal ini, kaitan naga dengan konsep menjaga harta karun, seperti gunungan koin atau emas, seperti yang terlihat dalam film epik fantastis trilogi The Hobbit.

Naga dianggap sebagai penjaga yang menakutkan dalam cerita tersebut, menciptakan gambaran tentang makhluk mitologis yang kuat dan menarik.

Kehadiran naga dalam cerita-cerita Alkitab memberikan aspek spiritual pada makhluk tersebut. Sebagai bagian penting dari warisan budaya dan keyakinan masyarakat, naga masih menjadi simbol kekuatan dan ketakutan, mencerminkan peran yang signifikan dalam mitologi yang mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap makhluk ini.

Baca Juga: 5 Hewan Mitologi yang Populer di Tanah Sunda

2. Peran Naga dalam Agama Kristen

Gereja Kristen telah menciptakan cerita legendaris tentang para orang suci yang berjuang melawan dan berhasil mengalahkan setan yang berwujud naga. Salah satu cerita yang paling terkenal adalah kisah St. George Si Pembunuh Naga.

Dalam cerita ini, para orang suci menunjukkan keberanian dan keyakinan mereka dengan menghadapi naga yang melambangkan kejahatan dan kegelapan. Kisah-kisah seperti ini menjadi lambang perlawanan terhadap kekuatan jahat dan menguatkan kekuatan kebaikan dalam iman Kristen.

Pada masa itu, sangat mungkin bahwa orang-orang Kristen percaya bahwa naga benar-benar ada seperti yang Livescience jelaskan. Keyakinan harfiah keberadaan naga mencerminkan pandangan agama pada waktu itu, di mana makhluk mitologi seperti naga merupakan simbol nyata dari kejahatan yang harus ditaklukkan oleh kekuatan ilahi.

Kisah legenda St. George menjadi bukti bagaimana keyakinan dan simbolisme dapat mempengaruhi pandangan dunia dan spiritualitas pada masa itu.

Baca Juga: Jejak ‘Unicorn’ dalam Mitologi Budaya Sejarah Dunia Kuno

3. Peran Naga dalam kepercayaan Hindu dan Buddha.

Dalam tradisi Hindu dan Buddha, naga memainkan peran yang sangat penting. Mereka menganggap naga sebagai makhluk mistis yang ada kaitannya dengan keberuntungan.

Dalam bukunya yang berjudul ‘Borobudur: Kisah Emas Sang Buddha’, John Miksic mengungkapkan bahwa naga memiliki peran penting dalam sastra dan seni Hindu. Pada tempat-tempat seperti Borobudur, penggambaran naga dapat dalam bentuk manusia atau sebagai hewan yang memiliki ciri khasnya sendiri.

Kata ‘Naga’ berasal dari bahasa Sanskerta dan memiliki arti yang sebenarnya adalah ular di Indonesia. Terutama di Jawa, istilah ‘Naga’ lebih sering merujuk pada dewa ular yang sering mereka kaitkan dengan air dan kesuburan dalam budaya Jawa Kuno.

Ada banyak cerita tentang Naga di Jawa yang terukir dalam pahatan di candi, terutama yang berkaitan dengan air amrta atau air kehidupan dalam cerita samudramanthana.

4. Naga dalam budaya Tiongkok

Whats Your Sign Liong 984x694 1
Ilustrasi Naga dalam Budaya Tiongkok

Dalam budaya Tiongkok, Naga, sebutan naga sebagai ‘Long,’ yaitu memiliki peran istimewa sebagai makhluk yang hidup di perairan seperti lautan, danau, sungai, dan bahkan mereka yakini memiliki kekuatan untuk mempengaruhi hujan.

Di masyarakat Tiongkok, mempercayai Naga sebagai simbol kehidupan, keberuntungan, dan kesuburan. Mereka percaya bahwa Naga memiliki kemampuan untuk membawa hujan di musim kemarau dan memberikan berkah bagi tanaman dan kehidupan secara keseluruhan.

Penampilan fisik Naga terdiri dari elemen yang mencolok, seperti tubuh ular, sisik ikan, cakar elang, tanduk rusa, dan wajah Qilin, yang memberikan sentuhan mistis dalam mitologi Tiongkok.

Naga dalam budaya Tiongkok melambangkan hubungannya dengan siklus alam. Mereka bukan hanya makhluk mitologis, tetapi juga penjaga harmoni alam. Keyakinan ini menjadi landasan spiritual dalam menghormati alam dan unsur-unsur alam yang diwakili oleh Naga.

Oleh karena itu, Naga menjadi simbol yang kaya makna dalam keyakinan dan tradisi Tiongkok.

5. Keberadaan Naga di Zaman Mesopotamia Kuno

Mushussu Sosok Ular Naga Dalam 20240105034855
Mushussu Sosok Ular Naga

Cerita tentang naga juga memiliki asal-usul dalam mitologi kuno Mesopotamia, di mana ada makhluk mitologis dengan sebutan Mušḫuššu atau ular ganas, yang menjadi tokoh utama dalam tulisan-tulisan Sumeria dan Babilonia. Penggambaran Mušḫuššu sebagai makhluk berwujud naga bersisik, dengan kepala dan lidah ular, serta cakar elang.

Dewa Marduk, yang sering muncul dalam bentuk yang mirip naga, dianggap sebagai simbol kemenangan atas dewa Tiamat.

Makhluk drakonik ini telah tercatat keberadaannya dalam ukiran Gerbang Ishtar di Babilonia, yang terbentuk pada abad ke-6 SM. Meskipun asal usul mitos naga ini belum banyak manusia ketahui dengan pasti, cerita tentangnya telah tersebar di berbagai wilayah.

Dalam Zoroastrianisme, sebuah agama kuno, Zahhāk dianggap sebagai anak dari Ahriman, yang merupakan perwujudan dari roh jahat. Dalam mitologi Persia kuno, naga sebagai makhluk yang sangat jahat dan menjadi pertanda buruk.

Oleh karena itu, cerita tentang naga mencerminkan kompleksitas mitologi yang melibatkan elemen kemenangan, kejahatan, dan pertanda buruk dalam sejarah dan kepercayaan kuno.

6. Kesalahpahaman tentang Naga

Sejak zaman dulu, kabar tentang keberadaan naga akhirnya diakui kebenarannya oleh orang-orang yang melihat langsung, terutama oleh para pelaut yang kembali dari Indonesia. Mereka melaporkan telah bertemu dengan makhluk yang menyerupai kadal, agresif, dan berpotensi berbahaya, dengan ukuran mencapai 10 kaki.

Ternyata, pada akhirnya, deskripsi tersebut mengacu pada hewan komodo. Sebelumnya, gigitan komodo berbahaya karena adanya bakteri beracun di mulutnya, namun anggapan tersebut telah terbantah oleh tim peneliti dari Universitas Queensland pada tahun 2013.

Pada abad ke-16, ada sebuah catatan menarik yang berasal dari Fei Xin, seorang anggota militer yang berlayar bersama Cheng Ho, saat ia mengunjungi bagian utara Sumatera.

Dalam bukunya yang berjudul ‘Catatan Umum Perjalanan di Lautan (Xing Cha Sheng Lan)’, ia menceritakan tentang pulau yang sering naga kunjungi, hal ini terbukti dari air liur yang tertinggal. Namun, menurut terjemahan W.P. Groeneveldt, ternyata yang dimaksud dengan air liur naga sebenarnya adalah ambergris, dan dengan kata naga, ia sebenarnya merujuk pada paus.

Dalam ‘Yingya Shenglan’, Mu Huan mencatat bahwa pada sekitar tahun 1416, ada naga di pesisir Melaka yang sebenarnya adalah kura-kura dan buaya. Naga-naga ini memiliki empat kaki, tetapi menurut terjemahan Groeneveldt, mereka sebenarnya buaya.

Dengan berjalannya waktu, naga-naga ini mengambil bentuk yang unik dengan menggabungkan harapan dan imajinasi masyarakat setempat, sering kali meniru sifat-sifat hewan nyata.

Itulah beberapa pandangan terkait mitos naga yang bisa kita pelajari sebagai legenda yang masih menjadi misteri keberadaannya. Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan