Menurut Peneliti, Pada 2050 Risiko Banjir di Jakarta Meningkat Hingga 400%

in ,
Credit Image: Liputan6

Dalam sebuah riset, peneliti menyebutkan bahwa Jakarta akan diprediksi mengalami risiko banjir yang lebih hebat di tahun 2050. Dalam prosentase, risiko banjir menunjukan angka sebesar 322% hingga 402% pada tahun 2050.

Prediksi tersebut berdasarkan asumsi bahwa tidak ada intervensi kebijakan perubahan iklim di Jakarta, hujan ekstrem yang terjadi pada daerah aliran sungai di Jakarta secara bersamaan, dan adanya pengembangan daerah pemukiman di Jakarta.

Faktor Penyebab

Ada dua faktor utama penyebab besarnya risiko banjir Jakarta pada tahun 2050, yaitu perubahan iklim dan pengembangan daerah perkotaan. Namun faktor yang paling utama ialah perubahan iklim, para peneliti mengakui bahwa meningkatnya risiko banjir di beberapa kota di dunia disebabkan oleh perubahan iklim.

Selain perubahan iklim, penutupan lahan hijau sebagai dampak pengembangan daerah perkotaan juga merupakan faktor meningkatnya risiko banjir pada tahun 2050, meski ada beberapa faktor lain yang bisa memicu risiko tersebut, seperti penumpukan sampah di sungai dan sedimentasi.

Tidak hanya Jakarta

Di masa depan, tidak hanya Jakarta saja yang akan menghadapi risiko banjir yang lebih besar. Kota-kota besar pada negara tetangga seperti Bangkok, Thailand; Manila, Filipina dan Ho Chi Minh Vietnam ternyata juga menghadapi hal yang sama.

Banjir memang merupakan problem global. Akibat perubahan iklim saja, Bangkok diprediksi akan mengalami risiko banjir sebesar 207%. Sementara kota Manila juga akan merasakan hal yang sama, namun dengan prosentase yang lebih besar, yaitu sekitar 700%.

Sedangkan pada Ho Chi Minh City, risiko banjir 16 kali lipat dibandingkan dengan kondisi yang sekarang akan terjadi hanya karena perubahan iklim.

Apa yang bisa dilakukan

Kita perlu menerapkan konsep infrastruktur hijau dalam bangunan perkotaan untuk mengatasi faktor perubahan iklim. Tidak hanya sebagai penahan hujan, infrastruktur hijau juga bisa berguna untuk menyerap emisi karbon.

Selain itu, membuat sumur serapan juga mampu meminimalisir risiko banjir pada kota. Sumur ini akan menampung sebagian air hujan, lalu mengisi ulang kandungan air tanah.

Kedua hal tersebut, bangunan ramah lingkungan dan sumur serapan merupakan contoh yang bisa diterapkan dalam skala kecil (rumah tangga). Jika saja semua elemen masyarakat menerapkan keduanya, bukan tidak mungkin risiko banjir bisa diminimalisir dengan sangat signifikan.

Tinggalkan Balasan