menu
Bebaspedia.com
Bebaspedia.com OpiniPedia THE BOOK OF ALMOST: I ALMOST HAD YOU, YOU ALMOST LOVE ME

THE BOOK OF ALMOST: I ALMOST HAD YOU, YOU ALMOST LOVE ME

Sebelum masuk ke resensi versi saya terhadap buku ini, alangkah baiknya kita mengenal biografi singkat mengenai penulisnya terlebih dahulu. Brian Khrisna atau yang lebih friendly disapa sebagai ‘Mbeeer’, janin asal Bandung yang lahir pada tanggal 17 Januari. Pemuda asal Bandung ini sudah aktif menulis sejak 2010. Lewat media sosialnya, ia sudah menghasilkan berbagai jenis tulisan—dari mulai bentuk prosa, puisi, komedi, cerpen, dan narasi lainnya yang dapat memikat hati pembaca.

Buku ini sebetulnya saya dapatkan ketika kebetulan saya sedang dalam kondisi patah hati—diduakan oleh mantan Kekasih yang dulunya saling meyakini, tetapi akhirnya memilih untuk pergi. Nahasnya, setelah saya mencoba move on, ternyata keberuntungan tidak berpihak kepada saya dikarenakan saya pun akhirnya terjebak dalam zona pertemanan atau friendzone bersama orang baru yang kini mulai melepas diri—menggantung perasaan saya di ambang ketidakpastian. Argh, sudahlah.

Jadi, buku ini pada hakikatnya menceritakan apa? Buku ini bukanlah sebuah novel yang berisikan cerita antar tokoh yang memiliki dialog di sepanjang alur ceritanya dan tidak lekang oleh konflik yang menuju akhir cerita membahagiakan atau mengecewakan. Tidak! Buku ini tidak begitu rumit seperti orang awam memandang novel kebanyakan.

ARTIKEL TERKAIT •
5 Tips Sederhana Mengatasi Rasa Malas Saat Membaca Buku

Baca Juga: 5 Tips Sederhana Mengatasi Rasa Malas Saat Membaca Buku

Bagi saya, buku ini merupakan manifestasi dari ungkapan hati penulis yang mengalami hubungan yang sebatas hampir. Buku ini juga mengajak kita untuk berkontemplasi terhadap hubungan asmara yang rancu nan ambigu kita bersama orang-orang yang terasa dekat, tetapi tidak terikat. Mungkin salah satunya dilematika rasa yang terjebak dalam status pertemanan.

Misalnya, jika kamu sedang berada dalam posisi tesebut, apa yang akan kamu lakukan? Pilihan yang tepat jika kamu membaca buku yang senantiasa menemanimu dengan kutipan-kutipan rasa kecewa, luka, marah, dan bahkan dapat membuka matamu lebar-lebar bahwa yang dicinta hanyalah orang yang singgah sementara.

Kemudian, jika saya disuruh memilih, ungkapan si penulis atau kutipan mana yang menjadi klimaksmu dalam membaca buku ini? Saya rasa, saya sudah mendapatkan pilihan yang tepat :

“Salah satu hal paling menyedihkan yang harus kau lalui adalah bertemu dengannya setiap hari di berbagai tempat dan diharuskan berpura-pura seperti dia tidak pernah menjadi seseorang yang special di hatimu sebelumnya.

Berpura-pura seperti kalian tidak pernah saling kenal sebelumnya.
Seperti dua orang asing yang padahal pernah mengetahui rahasia masing-masing.

Seperti dua orang asing yang tidak pernah bertemu sapa sebelumnya padahal pernah ada hari di mana kalian berbicara seperti dunia hanya milik berdua.

Seperti dua orang asing yang tidak pernah kau sentuh sebelumnya padahal erat hangat tangannya masih bisa kau rasakan di tiap malam kau mulai terpejam.

Seperti dua orang asing yang tidak pernah dekat sebelumnya padahal wangi parfumnya adalah salah satu hal di dunia yang dulu paling kau puja.

Kalian berdua dipaksa berpura-pura.
Saling menipu diri sendiri dengan mencoba terlihat siapa yang lebih bahagia padahal kalian berdua diam-diam tersiksa.

Saling merasa melepasnya itu lega,
Padahal rasa kalian masih sama.”

Yap, kutipan di atas yang berjudul, ‘Dua Asing Yang Sempat Saling’ sudah merepresentasikan perasaan saya. Menurut saya juga, kutipan ini adalah akibat dari sebab substansi judulnya yang memaknai kata ‘Hampir’ secara bijak dan jenaka. Hal ini tentu saja menjadi atensi bagi kita agar tidak terlalu menaruh harapan kepada seseorang yang sejatinya tidak serius dengan kita.

ARTIKEL TERKAIT •
Cara Belajar Sampai Paham: Teknik Feynman

Berangkat dari situ, saya merekomendasikan buku ini kepada seluruh orang yang sedang dalam masa kasmaran, terlebih lagi bagi orang-orang yang telah dipatahkan hatinya oleh seseorang yang dicintainya terlalu dalam.

Baca Juga: Catatan Buruk Demokrasi Di Indonesia

Terakhir, dari buku ini saya belajar—bahwasanya jangan mudah baper apabila dia datang tanpa membawa kepastian. Jangan terlalu mencintai dengan sungguh, apabila dia hanya sebatas singgah. Cinta yang melibatkan perasaan tidak pantas dijadikan sebuah permainan.

Add comment

Hidupkan Notifikasi    OK No thanks