2 Jenis Amalan: Qaashir Dan Muta’addi Yang Perlu Diketahui

in
Dua Amalan

Setiap manusia didunia ini pasti memiliki amalannya tersendiri, amalan tersebut bisa berupa apa saja, bisa saja berupa ucapan, perbuatan, ataupun getaran hati. Amalan yang dilakukan oleh setiap orang, tergantung dari niat yang mengamalkannya.

Berbicara soal amalan, terdapat dua amalan yang harus kamu kenali yaitu amalan Qaashir dan amalan Muta’addi. Sudahkah kamu mengetahui kedua amalan tersebut? Jika belum, mari kita bahas bersama-sama.

Memahami Amalan Qaashir Dan Amalan Muta’addi

Amalan yang kita lakukan, pada hakikatnya telah tercatat rapi sesuai dengan rancana Allah SWT. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Yasin ayat 12, yaitu:

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Perlu kamu ketahui, bahwa terdapat dua amalan yang perlu kamu pahami, yaitu Amalan Qaasir dan Amalan Muta’addi. Amalan Qaasir adalah amalan yang manfaatnya hanya dinikmati oleh orang yang mengamalkannya saja, seperti puasa dan iktikaf.

Sedangkan amalan Muta’addi adalah amalan yang manfaatnya dirasakan oleh orang lain juga, baik manfaat ukhrawi (seperti mengajarkan ilmu dan dakwah ilallah), atau manfaat duniawi (seperti menolong orang yang dizalimi).

Amalan Qaashir Dan Amalan Muta’addi, Manakah Yang Lebih Afdal?

Para fuqoha syariat mengatakan bahwa amalan Muta’addi yang menafaatnya dirasakan oleh orang lain lebih utama dibandingkan dengan amalan Qaashir yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri saja.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadist dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi).

“Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berikan Nilai Untuk Konten ini