menu
Bebaspedia.com
Bebaspedia.com OpiniPedia AKU: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar

AKU: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar

[ REVIEW BUKU ] | [ RESENSI BUKU ]

Pertama kali saya mengenal buku ini setelah menonton film, ‘Ada Apa Dengan Cinta’ tahun 2000-an yang waktu itu booming di kalangan remaja. Dimana hampir setiap adegan tokoh Rangga (Nicholas Saputra) pada saat membaca buku selalu membaca buku, ‘Aku’-nya Sjuman Djaya yang menceritakan perjalanan hidup seorang Penyair ternama pada masa itu, Chairil Anwar.

Romantisme antara Rangga dengan buku ini pun menciptakan suatu daya tarik tersendiri bagi penonton yang menyaksikannya. Saya, sebagai salah satu penonton dan sekaligus penggemar dari film tersebut pun tertarik untuk membacanya. Dan, ya, saya terhanyutkan bersama buku ini menuju suatu dimensi dimana saya dan Chairil Anwar hidup dalam masa yang sama.

Sebelum masuk lebih jauh ke dalam isi dari buku ini, alangkah baiknya kita berkenalan dengan penulisnya terlebih dahulu yang menciptakan mahakarya ini. Sjuman Djaya adalah seorang penulis skenario dan sekaligus sutradara film. Beliau lahir di Jakarta, 5 Agustus 1934—meninggal di Jakarta, 19 Juli 1985.

ARTIKEL TERKAIT •
THE BOOK OF ALMOST: I ALMOST HAD YOU, YOU ALMOST LOVE ME

Meskipun hanya beberapa karya yang lahir semasa karirnya berlangsung dan jika dibandingkan dengan orang yang bergelut di bidang yang sama, Sjuman Djaya ketinggalan jauh. Tetapi, hebatnya beliau hampir selalu meraup Piala Citra pada setiap kehadirannya dalam Festival Film Indonesia (FFI).

Sebetulnya, buku ini merupakan skenario film yang ditulis oleh Sjuman Djaya karena beliau sangat mengidolakan Chairil Anwar. Skenario ini mungkin akan tergarap menjadi film jikalau Sjuman Djaya masih hidup saat ini. Membaca buku ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi karena disetiap baitnya terdapat diksi-diksi yang kurang familiar bagi orang awam, terlebih lagi pergantian suasananya yang konstan dan tidak monoton memerlukan tindakan membaca berulang kali supaya dapat dicerna oleh otak kita.

Buku ini pun benar-benar melukiskan situasi dan kondisi pada saat masa Kolonialisme Jepang dengan dibumbui semangat ’45. Tatkala kita membaca buku ini mesti ditemani dengan secangkir kopi atau coklat panas supaya mata kita tidak terlelap dalam kelugasan tulisannya yang membosankan apabila kita menemui diksi yang asing. Tak lupa, tempat yang sepi dan tenang harus dijadikan sebagai payung teduh dari rangkaian untaian kata yang berani menghujanimu bertubi-tubi.

ARTIKEL TERKAIT •
Cara Belajar Sampai Paham: Teknik Feynman

Jadi, buku ini menceritakan tentang kehidupan sosok Chairil Anwar, Pujangga Muda, dari mulai kegilaannya dalam membaca hingga ikut serta dalam melakukan perlawanan terhadap Kolonialisme dan Imperliasme Jepang yang dipelopori oleh Angkatan ’45.

Selain itu, Chairil pun digambarkan sebagai seorang pria yang gampang luluh hatinya oleh wanita—sebut saja Sri Ayati, anak gadis keluarga Mirat, Marsiti, Hapsan, dan masih banyak lagi wanita yang telah dia kencani, tetapi diantara mereka, hanya Hapsanlah yang pernah dinikahinya. Benar-benar seorang pujangga yang tulen. Dan, jujur, dari buku ini saya baru tahu bahwa Chairil ini adalah salah satu keponakan Perdana Menteri pertama Indonesia, yakni Sutan Sjahrir.

Tidak hanya perjalanan historisnya saja yang diceirtakan, namun tampaknya sajak-sajak romansanya selama masa penjajahan menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca. Tentunya, sajak-sajak yang bernafaskan semangat perjuangan, tetapi tidak jarang juga kita akan menemukan sajak yang menyiratkan perasaannya tatkala jatuh cinta, gelisah, ataupun pasrah. Sajak-sajak yang dikemas secara lugas tanpa dihias-hias menjadi ciri khas Sang Pelopor ’45 ini.

ARTIKEL TERKAIT •
5 Tips Sederhana Mengatasi Rasa Malas Saat Membaca Buku

Kemudian, ada satu adegan yang menjadi bagian favorit saya dalam membaca ini dan saya pun terenyuh membacanya, merasakan mata merah dan jiwa apinya Chairil ketika diperlakukan seperti binatang—saat dia ditahan oleh prajurit Jepang karena mencuri seprai kasurnya opsir Jepang. Sewaktu tangannya dicekal dan sempat dihujani pukulan oleh prajurit untuk ditegakkan tubuhnya, Chairil berteriak kepada mereka, “Ayo, pukul lagi! Kita lihat, siapa yang lebih dulu menyerah pada kebinatangan ini!”.

Dia tetap bersikeras menolak dibangunkan oleh prajurit, dan akhirnya mendapatkan balasan tendangan di muka tirus berkerangka tulangnya. Setelah itu, dia berdiri dengan sendirinya lalu kembali meneriakkan, “Biar peluru menembus kulitku sekalipun, aku akan tetap menerjang!”. Di sini, jiwa perlawanan serta pemberontakkan saya pun ikut berkobar-kobar setelah membaca syair perlawanannya yang dilontarkan kepada prajurit Jepang.

Terlepas dari itu semua, saya dapat banyak pelajaran dari buku ini. Seorang Chairil Anwar, seniman yang liar dengan berperawakan kurus kerempeng pun dapat menciptakan karya-karya yang fantastis pada masanya, meskipun saat itu karya-karyanya dinilai telah merusak nilai-nilai sastra dan tidak pernah dihargai oleh kritikus.

ARTIKEL TERKAIT •
Cara Belajar Sampai Paham: Teknik Feynman

Tetapi setelah ia menyatu dengan tanah untuk selama-lamanya, barulah namanya dipuji-puji dan diakui atas kontribusinya dalam pembaharuan seni sastra di Indonesia. Terima kasih Tuhan, Engkau pernah mengutus anak bangsa ini yang membawa panorama baru bagi dunia sastra di negeri ini.

Berangkat dari situ, saya jadi tahu bahwa pelopor ’45 dalam buku tersebut diperankan oleh pemuda berwujud Kuda Binal yang siap menerjang segala rintangan. Kuda Binal tersebut pun meringkik dengan kerasnya :

Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulan terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri…

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi!

Add comment

Hidupkan Notifikasi    OK No thanks