Siapa Pribumi yang Sebenarnya Di Indonesia?

in
Pribumi Indonesia
Credit Image: www.antimedia.com

Indonesia negeri dengan budaya yang beragam, suku yang berbeda-beda, menjunjung tinggi nilai agama, dll. Tetapi perbedaan kita tidak menjadikan sebuah alasan dalam hal yang sifatnya universal, kita terlahir disini dan kemungkinan besar akan gugur disini juga.

Namun, apakah kalian pernah berpikir siapa yang pertama kali menginjakkan kaki ke tanah nusantara ini?

Pribumi, Tentang Penduduk Asli Dan Pendatang 

Seringkali kita mendengar istilah “Pribumi” yang biasanya identik dengan identitas asli di daerah-daerah tertentu. Istilah “Pribumi” ini sendiri kerap kali digunakan sebagai pembeda antara golongan yang dianggap sebagai orang, suku, etnis asli Indonesia dengan mereka yang dianggap sebagai “Pendatang”.

Jika kita bernostalgia pada tahun ’98, ada serangkaian peristiwa yang sangat mengerikan, salah satunya pembantaian etnis Tionghoa. Tidak jelas apa motif para pembantai tetapi sangat disayangkan jika alasannya ialah bukan pribumi.

Kedatangan Homo Erectus

Homo Erectus Indonesia
Ilustrasi Homo Erectus | Sains Kompas

Jauh sebelum Homo Sapiens datang ke Nusantara, kaum pendatang yang pertama kali menginjakkan kaki ke tanah Nusantara adalah Homo Erectus yang bermigrasi panjang dari afrika sekitar 1,8 juta tahun yang lalu.

ARTIKEL TERKAIT •
Bekasi Siap Lockdown Jika Kasus Virus Corona di Jakarta Meningkat

Homo erectus inilah penduduk yang paling lama tinggal di tanah Nusantara ini sekitar 1,5 – 1,7 juta tahun. Mereka berjalan di sepanjang bibir pantai selama bertahun-tahun hingga akhirnya bisa sampai di Indonesia zaman dulu.

Fosil dari Homo erectus banyak di temukan di Indonesia terutama di Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Manusia purba jenis ini akhirnya dinamai dengan Pitecanthropus erectus.

Migrasi panjang Homo erectus dari Afrika ke berbagai penjuru dunia memang cukup fenomenal dan sedikit banyak masih keberadaan mereka membentuk ekosistem yang kita kenal sekarang ini.

Dari sekian banyak kelompok Homo erectus yang terpencar menuju Eropa, Asia Tengah, India, ada beberapa yang mencoba nekat menyusuri garis pantai selatan sampe ke Nusa Tenggara Timur, tepatnya Pulau Flores.

Sundaland
Sundaland | Picuki

Perlu diketahui bahwa garis batas daratan dan lautan yang dikenal sebagai peta dunia modern sekarang berbeda dengan keadaan bumi berjuta-juta tahun yang lalu. Sekitar 1-2 juta tahun yang lalu, pulau jawa, sumatera, dan lainnya itu belum terpecah atau dalam artian lain itu masih menyatu.

ARTIKEL TERKAIT •
Ted Bundy, Psikopat Ganteng Pengoleksi Penggalan Kepala Wanita Cantik

Jadi, 1,8 juta tahun yang lalu Homo erectus bisa berjalan kaki dari daerah Asia Tenggara, misalnya dari Vietnam menuju ke Bali tanpa menyeberangi lautan.

Kedatangan Homo Sapiens 

Sedangkan spesies Homo sapiens baru masuk ke nusantara secara bertahap pada masa Pleistosen, pada masa ini terbagi menjadi 2 golongan besar yaitu Melanesia dan Austronesia yang diprediksi orang melanesia datang ke indonesia sejak 50 ribu tahun yang lalu, sedangkan orang Austronesia sejak 4 ribu tahun yang lalu. 

Homo Sapiens atau manusia modern juga berasal dari Afrika dan melakukan migrasi besar-besaran ke seluruh penjuru dunia dalam dua gelombang migrasi. Gelombang pertama berlangsung kira-kira 100 ribu tahun yang lalu, sedangkan gelombang kedua berlangsung kira-kira 50-70 ribu tahun yang lalu.

Gelombang pertama keluar dari Afrika lewat selat kecil yang misahin Ethiopia dan Yemen, terus lanjut ke India bagian selatan, nyusurin pantai lanjut ke Paparan Sunda sampai ada yang nyeberang dengan perahu ke Paparan Sahul (Papua, Australia).

Kesimpulan, kita tidak bisa mengklaim bahwa kita adalah pribumi, apalagi sampai mendiskriminasi orang yang kita anggap pendatang, karena jika kita menilik sejarah, tidak ada penduduk Indonesia yang benar-benar pribumi, kita hanyalah bangsa pendatang. Kita bisa hidup bersama-sama di negeri tercinta ini tanpa ada sekat-pekat yang dibangun. 

ARTIKEL TERKAIT •
Kisah Wanita Terkejam Sepanjang Sejarah, Menyiksa dan Membunuh 612 Gadis Muda

Sumber/Referensi:  Kompasiana, Buku Sejarah dan Tambahan Penulis

Penulis: Prience Mikael
Editor: Yogi Arfan

 

Berikan Nilai Untuk Konten ini